REGISTRASI TELAH DIBUKA HINGGA TANGGAL 
15 JANUARI 2014


1.      Registrasi terdiri dari Gelombang I dan Gelombang II.
2.      Registrasi Gelombang I dibuka pada tanggal 1 Januari 2014 – 15 Januari 2014.
3.      Registrasi Gelombang II dibuka pada tanggal 16 Januari 2014 – 22 Januari 2014.
4.      Registrasi Gelombang II hanya akan dibuka apabila kuota peserta Volunteer Competition Day 2014 pada registrasi Gelombang I belum terpenuhi.
5.      Setiap peserta wajib mengisi borang pendaftaran di sini
6.      Biaya pendaftaran disesuaikan berdasarkan jumlah anggota/tim dengan rincian :
·         3 anggota/tim          : Rp 200.000
·         4 anggota/tim          : Rp 250.000
·         5 anggota/tim          : Rp 300.000
7.      Setiap peserta wajib menyetorkan biaya pendaftaran sebesar kepada panitia melalui :
      No. Rekening : 318415224
      a.n. Nurul Hidayah R
      Bank BNI
8. Hasil pindai (scan) bukti pembayaran biaya registrasi dikirimkan melalui email ke vcdiflsulsel@gmail.com dan melakukan konfirmasi melalui sms ke nomor 082345202529 (Intan).
9.      Batas pembayaran registrasi untuk Gelombang I paling lambat pada tanggal 16 Januari 2014, sedangkan untuk Gelombang II paling lambat pada tanggal 23 Januari 2014.
10.  Tim yang tidak membayarkan biaya pendaftaran sesuai dengan tanggal yang ditentukan akan dianggap mengundurkan diri dan tidak diikutsertakan dalam Volunteer Competition Day 2014.
11.  Batas peserta yang akan mengikuti Volunteer Competition Day 2014 maksimal 40 tim. Apabila peserta telah terpenuhi maka registrasi akan dihentikan.

Petunjuk umum lomba dapat diunduh di sini




Leaders, Indonesian Future Leaders chapter Sulawesi Selatan bakalan mengadakan acara terbesarnya, yaitu Volunteer Competition Day 2014 atau disingkat VCD 2014.

Acara ini berupa lomba proyek sosial yang diperuntukkan untuk seluruh siswa SMA dan mahasiswa aktif yang ada di Sulawesi Selatan.

Untuk info selanjutnya silahkan unduk Petunjuk Umum Volunteer Competition Day 2014 di laman ini.

Download Petunjuk Umum Lomba di Sini

DON'T MISS IT!!!






Makassar – Indonesian Future Leaders Chapter Sulsel berkumpul di Anjungan Pantai Losari pada Minggu (17/11) kemarin untuk melaksanakan Clean Up Project. Dari pukul 07.30 hingga 10.00 WITA, staf IFL Sulsel beserta beberapa relawan berpencar membersihkan Anjungan Pantai Losari.

Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu program kerja dalam bidang pelayanan dan juga advokasi IFL Sulsel terhadap masyarakat. Pantai Losari dipilih karena sebagai ikon Kota Makassar dan Sulawesi Selatan. Selain untuk membantu membersihkan, staf IFL juga ingin memperlihatkan kepada masyarakat luas Makassar bahwa sebagai generasi muda, kita perlu memelihara lingkungan, salah satu contoh usahanya ialah dengan memungut dan membuang sampah pada tempatnya.

“Ke depannya, kita juga akan menjadikan kegiatan ini menjadi long term service project yang akan dilaksanakan dua bulan sekali,” tutur Awal Safar, salah satu staf IFL Sulsel.

Jadi, bagi kalian yang merasa tertarik untuk bergabung bersama IFL Sulsel demi masyarakat, pemuda, dan lingkungan, bisa mendaftarkan diri dengan menghubungi akun jejaring sosial IFL Sulsel seperti facebook dan twitter di @IFLSulsel. 

Public Relations Team


Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan utama bangsa Indonesia. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut yaitu melalui pendidikan. Pendidikan yang dimiliki oleh suatu bangsa akan berdampak pada peradaban bangsa tersebut. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan faktor utama untuk memajukan sebuah negara. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tugas pemerintah.

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak
berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”- Anies Baswedan

Berangkat dari hal tersebut, IFL Sulsel yang merupakan organisasi pemberdayaan pemuda untuk perubahan sosial menginisiasikan sebuah program jangka panjang yakni IFL Mengajar yang dimulai pada akhir bulan Maret 2013 dan berlanjut hingga saat ini. Ada sekitar 30 anak-anak sekitar-an UNHAS yang mengikuti kegiatan ini. Anak- anak tersebut ada yang belum bisa mencicipi indahnya pendidikan suplemen, bahkan ada anak yang belum bisa merasakan hangatnya bangku sekolah. IFL Mengajar hadir setiap Sabtu dan Minggu, Pukul 15.00- selesai di Ex-Rusunawa UNHAS.

Meskipun ilmu, tempat, dan fasilitas yang diberikan masih sangat terbatas, akan tetapi indahnya tawa riang dan keingintahuan anak- anak yang amat tinggi selalu menyemangati kami” Ujar Masita, salah satu pengajar di IFL Mengajar. Sama halnya dengan Masita, Project Officer IFL Mengajar yaitu Muhammad Awal Safar juga bersemangat menjelaskan kegiatan ini “Kita sadar, bahwa kita tidak boleh hanya mengutuk negeri ini dan menuntut agar anak bangsa dapat berpendidikan. Kita harus menyadari bahwa kita adalah kaum muda intelek yang harus berbagi dan berkontribusi demi terciptanya anak-anak Indonesia cerdas dan bermoral. Karena generasi selanjutnya harus lebih cerdas. mereka harus lebih kritis, dan harus lebih bisa!” Ujarnya.

Pada IFL Mengajar, Pembelajaran yang diberikan berdasarkan permintaan dari adik- adik IFL Mengajar (apa yang ingin diajarkan). Pada hari Sabtu adalah kelas akademik yaitu  pelajaran sekolah tetapi dengan konsep yang fun seperti Matematika Fun, English Fun, Bahasa Indonesia, PKn/Ilmu Sosial, dan IPA. Sedangkan hari minggu adalah kelas keterampilan seperti kerajinan tangan, menggambar, kebersihan diri, mewarnai, dan sopan santun.

Pada awal pembelajaran IFL Mengajar terkhusus untuk kelas akademik, pengajarnya akan dibagi berdasarkan pelajaran yang ingin dipelajari oleh murid- murid. Jadi, untuk kelas akademik murid terbagi berdasarkan mata pelajaran. Namun, karena metode pembelajaran ini dianggap kurang efektif dan efisien, sehingga pengajar dan official membuat kurikulum pembelajaran setiap minggunya yang dibagi berdasarkan tingkatan kelas.




Semoga apa yang kami lakukan dan apa yang mereka lakukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat menginspirasi banyak orang di luar sana untuk bergerak, berdaya, dan menciptakan perubahan demi Indonesia yang lebih baik. (Sri Septiany Arista Yufeny, Sekertaris IFL Sulsel)


Selasa 28 mei 2013, siswa-siswi yang telah menempuh Ujian Nasioanal di dua SMA Negeri di Sulawesi Selatan, SMAN 1 Bulukumba dan SMAN 21 Makassar mengeksekusi niat mulia untuk melunturkan budaya corat coret dengan menyumbangkan pakaian seragam mereka. Aksi ini di jembatani oleh Indonesian Future Leaders (IFL) chapter Sulawesi Selatan sebagai organisasi kepemudaan yang bertujuan untuk mengoptimalisasi pemberdayaan pemuda di masyarakat dengan nama program “Abu-abu Heritage”.
            Kegiatan Abu-abu Heritage 2013 bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya kegiatan ini dilakukan di SMAN 1 Bulukumba di tahun 2012. Ekspansi spot kegiatan di anggap perlu melihat seluruh siswa siswi di Sulawesi Selatan membutuhkan inisiasi aksi dan berkaca pada kesuksesan kegiatan Abu-abu Heritage tahun lalu.  
            Dengan tema “Semangat Kelulusan, Semangat Berbagi”, kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi budaya corat coret di kalangan siswa-siwi SMA menjelang pengumuman kelulusan dan menumbuhkan rasa saling berbagi kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
            “Alhamdulillah kami tidak mencoret coret seragam kami waktu pengumuman karena kami sadar jika berbagi dengan mereka jauh lebih indah, oleh karena itu saya bersyukur, saya lulus dan mendonasikan putih abu abu saya agar mereka dapat merasakan kebahagiaan kami. Semangat berbagi,” tutur Dimas Pangeran Arvin, siswa SMAN 1 Bulukumba yang menjadi salah satu siswa yang menyumbangkan seragamnya.
            IFL Sulsel sebagai pihak penyelenggara kegiatan Abu-abu heritage tak melupakan luapan kesenangan yang dirasakan oleh siswa-siswi di SMAN 1 Bulukumba dan SMAN 21 Makassar menjelang pengumuman kelulusan. Kain putih, spidol, serta pilox disediakan sebagai media corat coret bagi mereka yang ingin sekedar mengukirkan nama pertanda kelulusan.
            Walaupun tidak sepenuhnya menghilangkan budaya corat coret dikalangan SMA, kegiatan Abu-abu Heritage merupakan aksi awal untuk menyongsong aksi yang lebih besar kedepannya hingga pada akhirnya budaya corat coret menjadi sejarah suram yang menjadi kenangan.
            Jumlah seragam yang berhasil di sumbangkan dari SMAN 1 Bulukumba yakni 18 pasang, baju batik sebanyak 9 lembar, 1 atribut sekolah, 2 pasang baju olahraga, dan buku 23 buah. Tak ingin kalah, SMAN 21 Makassar berhasil mengumpulkan 28 pasang seragam SMA dan 16 pasang baju pramuka.
            Hasil dari sumbangan tersebut kemudian di sumbangkan kepada anak yatim di panti asuhan di kota Makassar melalu program Komunitas Berbagai yang merupakan agenda KeKeR, salah satu rubrik di koran harian Fajar.

Mau tau keseruan Komunitas Berbagi? Berbagi ala IFL Sulsel, KeKeR, dan Komunitas Lain? Nantikan di postingan selanjutnya. Salam Pemuda Berdaya !!! (Masita, PR IFL Sulsel)







Sumber: Disini



"sebaik-baik manusia adalah mereka yang beremanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri"
2013 disambut dengan intensitas hujan yang cukup tinggi di Indonesia. Tidak terkecuali di Makassar. Bencana banjir pun tidak terhindarkan. 

Minggu (6/10) Seluruh kendaraan yang akan menuju Makassar yang melalui daerah Jeneponto, terpaksa tidak bisa melanjutkan perjalanan dan harus memutar balik dikarenakan sebagian daerah Jeneponto terendam banjir.

Read more »